Rumus Margin dan Markup: Bedanya Apa dan Cara Hitungnya
Margin dan markup sering dianggap sama. Padahal keduanya menghasilkan angka yang cukup berbeda, dan salah memilih di antara keduanya membuat produk Anda dijual terlalu murah.
Kabar baiknya: bedanya cuma satu, yaitu dasar dari mana persentase dihitung.
Definisi margin
Margin dihitung dari harga jual.
Margin (%) = (Laba / Harga jual) x 100
Laba di sini adalah selisih antara harga jual dan seluruh biaya yang Anda keluarkan untuk membuat produk itu. Kalau harga jual Rp100.000 dan total biaya Rp80.000, maka laba Rp20.000 dan margin-nya 20 persen.
Definisi markup
Markup dihitung dari modal atau harga beli.
Markup (%) = (Laba / Modal) x 100
Dari contoh yang sama, modal Rp60.000, harga jual Rp100.000, laba Rp20.000. Markup-nya 20.000 dibagi 60.000, yaitu sekitar 33 persen.
Angka sama, dua hasil berbeda
Bandingkan keduanya:
| Harga jual | Modal | Total biaya | Laba | |
|---|---|---|---|---|
| Dasar hitung | Rp100.000 | Rp60.000 | Rp80.000 | Rp20.000 |
- Margin = 20.000 / 100.000 = 20%
- Markup = 20.000 / 60.000 = 33,3%
Laba yang sama, tapi terlihat berbeda jauh. Kalau ada supplier yang bilang "kami kasih diskon 33 persen", itu melewati mata Anda seperti diskon besar. Padahal kalau dihitung dari harga jual, margin-nya cuma 20 persen.
Kapan pakai yang mana
Gunakan margin untuk menentukan harga jual. Ini angka yang langsung menunjukkan berapa bagian dari setiap rupiah yang masuk ke tangan Anda.
Gunakan markup untuk menilai sehat tidaknya harga beli dari supplier. Kalau markup-nya kecil, berarti Anda perlu mencari sumber distribusi yang lebih murah.
Praktisnya begini:
- Anda ingin margin 25 persen, dan total biaya produk Rp75.000. Berapa harga minimal? Jawabannya harus Rp100.000, karena Rp75.000 dibagi 0,75 sama dengan Rp100.000.
- Anda ditawari harga beli Rp50.000, dan ingin menjual Rp80.000. Markup-nya 60 persen, yang berarti produk ini memang layak diambil.
Kesalahan yang sering terjadi
Menambah persentase langsung di atas modal. Cara paling umum, dan paling berbahaya. Kalau Anda menambah 30 persen di atas modal Rp60.000, harga jualnya jadi Rp78.000. Tapi begitu biaya platform ikut dipotong, margin Anda tinggal sekitar 12 persen, bukan 30 persen seperti yang Anda kira.
Untuk harga Rp78.000 dengan tarif administrasi 9,5 persen dan biaya proses pesanan Rp1.250, biaya platformnya Rp8.660. Laba bersihnya Rp9.340, dan itu baru 11,97 persen dari harga jual.
Menganggap markup besar berarti untung besar. Markup 100 persen dengan margin 50 persen adalah dua hal yang berbeda. Kalau modal Anda Rp10.000 dan bisa dijual Rp20.000, markup-nya 100 persen terdengar menggiurkan, tapi margin aslinya cuma 50 persen, dan tidak ada ruang untuk ongkir maupun kemasan.
Mengabaikan fee marketplace dalam menentukan margin. Margin dihitung dari laba setelah semua biaya, termasuk fee platform dan ongkir. Kalau fee belum dipotong saat Anda menghitung margin, hasilnya pasti lebih besar dari kenyataan.
Menghitung harga dari target margin
Rumus yang sering dipakai:
Harga jual = Total biaya / (1 - margin yang diinginkan)
Contohnya, total biaya produk Rp75.000 dan target margin 25 persen:
Harga jual = 75.000 / (1 - 0,25)
= 75.000 / 0,75
= Rp100.000
Kalau targetnya 30 persen, hasilnya Rp107.143. Selisih Rp7.143 terhadap harga Rp100.000 itu terasa kecil, tapi dari total biaya yang sama, perbedaan laba Rp7.143 itu cukup berarti ketika dikalikan seratus order.
Cara mempraktikannya
Masukkan angka Anda ke kalkulator margin dan balik modal. Isi modal, kemasan, ongkir, dan persentase fee, lalu tetapkan target margin. Kalkulator akan menampilkan rekomendasi harga sekaligus membandingkan dengan harga jual yang sedang Anda pakai, supaya Anda langsung melihat apakah margin saat ini sudah sesuai atau belum.
Angka fee di kalkulator perlu Anda sesuaikan dengan kondisi akun Anda, karena tarif berbeda tiap kategori produk. Untuk hitungan fee marketplace yang lebih lengkap, baca artikel tentang menghitung fee Shopee.